Friday, September 28, 2007

I have NothinG

Ada masa tiba ketika ku dapati diriku begitu kecil
Bukan apa-apa
Bukan siapa-siapa
Tiada banyak berarti
BerkarYa
Berprestasi.


Pernah ngga sih kamu merasa begitu terkesima, terpana atau apa lah namanya dengan profil seseorang yang begitu luar biasa dalam karya atau pengabdiannya ?
Panutan pujaan saya sih tentu saja tante Oprah.
Tau sendiri lah, apa saja yang sudah dia buat kan ?
She is SOMETHING !

Ngga usah Oprah deh
Iseng ngintip blog beberapa teman seprofesi yang saya kenal saja,
saya jadi luar biasa merasa diri bukan siapa-siapa.
Atau dikasih link sama Stania, soal web-nya Hera Diani, bikin saya jiper.
I am so Zero..Nothing..huhuhu…

Bo’…resume dan artikel yang dia tulis..alamak keren banget.
Secara enggres gw survival gini gitu yah..jadi keder.
Liat desain webnya juga..wuih wuih..bikin keringet dingin
Jujur saya juga sempat punya ide yang sama, tapi berat diongkos…huhuhuhu…dudududu…

Tapi biar saja lah
Saya mau berkarya dengan apa yang terbaik yang saya punya sekarang.
Tak ada pretensi lebih atau ambisi apapun.
Semua ini semata demi dokumentasi.
Benar kata Citra Prastuti, isi kepala kita yang triliunan ini wajib didokumentasi.
Mau lewat media mana, terserah anda.

Dan pilihan saya adalah lewat blogs ini.
Semoga bisa jadi link dokumentasi yang baik untuk ‘calon bayi” saya juga.

Doakan dan dukung saya ya….(idih kayak kampanye aja..hehe…)

Thursday, September 27, 2007

FaLLing In LOvE

Saya harus jujur mengakui berkecimpung di dunia ini, bukan sebuah pilihan yang dari awal saya inginkan.

It’s just happen. Mungkin nyaris seperti jatuh cinta.

Dan itu lah yang terjadi. Saya JATUH CINTA pada dunia ini.

Mungkin kalau kawan alumni kampus saya tahu saya menekuni profesi ini, mereka akan mengutuk saya.
Aktifitas saya di kampus, nyaris meniadakan akademis.
Tak pernah saya terlibat dalam organisasi pers mahasiswa.

Paling banter aktifitas saya yang berkaitan dengan dunia ini, memastikan bulletin bulanan organisasi Pecinta Alam kampus-MAHAFISIPPA-terbit dan tersebar dengan baik.

Jujur kalau saya lihat lagi hasil karya itu, saya malu.
Nyaris mengabaikan kaidah jurnalistik media cetak.
Banyak kata tak efektif bertele-tele nan tiada deskripsi,
tapi luar biasa cantik di desain, gambar dan kartun yang dipajang..hehe…

Satu-satunya yang bisa dibanggakan adalah KEPERCAYAAN DIRI untuk mencetak dan menerbitkannya !
Atau lebih tepat NEKAD ? hm…

Apapun itu, kegandrungan saya terhadap dunia ini baru benar-benar terlecut ketika saya mulai gerah dengan rutinitas pekerjaan yang saya punya. Pola yang sama, potensi yang dimandegkan, membuat saya ingin memiliki rasa bangga dengan profesi ini.

Tersebutlah kisah selanjutnya dimana keinginan itu kelamaan terbangun dengan pekerjaan baru yang dipercayakan kepada saya.

Bekerja dengan seorang wartawan asing yang punya tuntutan yang luar biasa demanded and full of pressure, membuat saya bekerja berkali lipat dari sebelumnya. Perfeksionis adalah kebutuhan yang setiap hari harus dipenuhi. Tidak ada cacat, well planed and organized !

Puh…tiap hari hidup penuh dengan perasaan was was.

Tapi tiap hari itu pula saya belajar.

Hal-hal awal yang saya pelajari adalah :

1. Penampilan.
Mereka membungkus diri mereka dengan jas tebal plus dasi super panas ketika ke lapangan.
Nampak eksklusif dan professional.
Sementara saya, sebelumnya sangat nyaman dengan jeans, t-shirt & sepatu kets.
Mengenakan jas dengan sepatu pantovel adalah siksa yang harus dijalani setiap kali meliput di istana Presiden.

2. Pengetahuan = Tanggung Jawab

Luar biasa detail. Bahkan hanya untuk sebuah liputan news yang berdurasi 2 menit, pengetahuan soal satu issue membutuhkan riset yang luar biasa gila-gilaan. Saban hari 3 koran lokal dan 2 koran asing harus dilalap. Dan itu masih harus dibumbui dengan aksi membrowsing dan quick scan ke sejumlah news wires. Buat saya ini baru dan menyita energi. Dulu saya akui saya pemalas. Lebih suka berkutat pada desk saya saja. Bak katak dalam tempurung. Ogah dan merasa terlalu lelah untuk melirik lahan kawan.

Seiring waktu pelajaran ini menjadi semakin berkembang dan berkembang.

Saya kesulitan meng-inti sarikannya…buanyak banget..

Ditulis terpisah saja yah….

Piss

Wednesday, September 26, 2007

My PooR UNSocialita Life

Lagi ngga minat nulis soal jurnalisme.
Tapi ini ada hubungannya dengan kebutuhan keseimbangan seorang jurnalis.
Dan di titik ini, tepatnya JUmat malam lalu, saya disadarkan pada satu pertanyaan
"betapa kesepiannya saya ! Betapa tidak socialitanya saya !"
Aduh..ini keluhan kah ?
Saya rasa begitu..
Hampir 6 bulan saya tutup pintu itu.
Terkurung pada lingkaran setan masalah-problema-konflik dan sakit.

Sahabat setia saya selain manusia
cuma tangis, diary dan dunia maya ini.
Aduh..terdengar memprihatinkan yah ?

Entah....
Yang Jelas saya berniat mengubahnya
Rencana tengah disusun
Semoga merealita
Minimal laki-laki berkacamata tak konsisten itu memenuhi janjinya.

Sampai jumpa..
Insya allah dua hari ke depan..

Tuesday, September 25, 2007

MenunGGU

Aduh maaf..
Tak bisa banyak menulis
Meski kepala ini disesaki lintasan ide
Berkeliaran semaunya mengabaikan kram di perut ini
Menunggu memang menyakitkan
Menunggu juga jadi satu dari sekian tanggung jawab seorang JURU WARTA

Thursday, September 20, 2007

GREAT THINGS about J.O.U.R.N.A.L.I.S.M.

GREAT THINGS about J.O.U.R.N.A.L.I.S.M.

Isn’t it great that you get paid and rewarded for being curious ?

That line is belong to my former employer, Step Vaessen.

We’re both agree that, become a journalist is about a great job to live with.

U’re being task to question almost everything and earn material and immaterial reward from your job !

You can be and have any new perpectives on different issues of life.

You’re live your life with second count learning.

Not the mention, the luxury to travel, see and enjoy beautifull sceneries, met different people, learn their character-culture & habit, gain their trust and worthed for their and your own LIFE !

It’s truly and definitelly A GREAT THING TO HAVE.

Tuesday, September 18, 2007

AwaLnya...

Keputusan menjadi seorang wartawan lepas seperti sekarang, bukan perkara mudah.

Yang terberat adalah memantapkan mental !

Bagaimana tidak ?

Nyaris lima bulan orientasi saya soal hidup buntu. Deadlock !

Sakit silih berganti…Surat-email lamaran tak bersuara…
Wawancara kerja berakhir sadis, no mineral water, smile or even hands shake !
I guess Im just too confident for them…Apa kata dunia mak…Biarkan saja.


Walhasil…saya sukses menganggur, brag proud and shame of it..hahaha…

Padahal jujur, BETE juga lah.
Patah arang, badan kayak triplek, wajah berkeriput dan tubian kecaman
that Im getting so much skinny on purpose…

Dokter bilang “Throw away your burdens ! Ur illness is cause by them.
Saya bilang “Anda benar ! Tapi jangan bilang saya tak berusaha keras untuk memeranginya.

I surely DO ! Not all of you have any single clue.

Hm, MaaF kalau jadi defensif begini.
Saya cuma mau bilang Semua itu tidak mudah.
Masalah saya tidak cuma satu. Kebetulan mereka suka datang bergerombol.
Dan kali itu, saya kehilangan satu kekuatan yang sempat membantu.


Akhirnya, setelah sekian waktu, saya berkompromi dengan diri saya sendiri.
Saya harus berani dan kuat mengakui : “IYA. Saya SENDIRI dengan semua masalah ini !
Saya berhenti MengeluH, kenapa masih saja diuji.
Saya juga berhenti berpikir keras Apa yang TUHAN mau ajarkan kali ini.
Saya berujar “ Hayo…Aku tantang ‘Kamu’ kali ini !

Sombong ya ? Angkuh ?
Mudah-mudahan tidak.
Itu cuma sebuah pikiran yang coba saya terus hidupkan di kepala saya terhadap keputusasaan.

Saya kini berpikir..Silakan saja masalah demi masalah datang. Tak ada yang bisa mencegahnya.
Yang bisa saya lakukan adalah menjalaninya. Menerimanya sebagai bagian dari proses HIDUP manusia.

Dan ini lah hasilnya. Hati nurani saya sekarang sudah lebih lantang berkata :
Saya jalani apa yang KAU tulis untuk ku sekuat semampu semaksimalku.

Dan aku akan ubah dan putuskan apa dari tulisan itu menjadi kebaikan kebajikan.

Sadar bahwa saya tak mampu rampungkan semua, maka soal yang termudah lah yang saya coba tata.
Saya harus tentukan kebutuhan dan kemauan saya soal pekerjaan.
Saya sempat lupa betapa pekerjaan bisa jadi sebuah tempat pelarian yang asik dari semua masalahmu.


Saya pun membuat pilihan.
Menjadi wartawan lepas.
BEBAS.
Paling tidak dari keterikatan komitmen dengan sebuah perusahaan tertentu yang mungkin punya interest berbeda.

Mari melakukan apa yang saya bisa, saya suka, dan membuat saya berarti.
Meski sepenuhnya sadar pilihan ini diliputi segala ketidakpastian, paling tidak saya bisa LARI.

Ini lah pilihan saya.
Ini hidup saya. Ini dunia saya.
Tempat saya punya Karya.
Ruang untuk punYa makna.
Surga untuK semua keTidakseMpurnaan Yang Saya PUnya !


Tak ada yang bisa dibanggakan atau bergengsi dengan pilihan ini.

Ada seorang kawan saya yang menyebutnya “Jonggos”.
Katakan itu betul, biar saja.
Tak ada yang rendah dan salah dengan pilihan itu.

Buat saya pekerjaan ini luar biasa nikmat.

Punya sedikit kendali dan kontribusi dalam framing sebuah peliputan yang punya efek global tentang NUSANTARA,
adalah “something” buat saya.
Meski kadang dihinggapi beban layaknya sebuah “ensiklopedi nusantara”, saya bangga bisa ikut andil di dalamnya.

Memastikan mereka memiliki banyak sisi cakupan sebuah wawasan tentang ibu pertiwi,
melecut semangat saya untuk terus berkarya dan menyebarkannya.

Meski tak diganjar dengan terpampangnya nama saya dalam dua atau lima menit audio visual yang dipertontonkan,
saya cukup senang dengan fakta : “I make that thing happened and well done !

Sebutan formal pilihan profesi saya versi beberapa bekas rekan kerja yang kebetulan berasal dari ras kaukasia, “Fixer”.
Seseorang yang mengatur segala sesuatu yang dibutuhkan demi sebuah reportase yang utuh.

Segala urusan logistic seperti pesawat, hotel, helicopter, mobil, pengenalan medan liputan hingga restoran local yang sedap, juga elemen-elemen lain seperti riset, lobby dengan sejumlah nara sumber, surat menyurat, adalah tanggung jawab yang mengikutinya. Urusan memastikan kami bisa bersulang di setiap akhir hari kerja dengan “wine”, juga jadi pekerjaan informal yang kadang saya lakukan. Bentuk penghargaan terhadap kerja keras harus diganjar dengan “wine”, begitu klaim mereka yang buat saya asik juga. Sejalan dengan prinsip “Appreciate your self best lah !

Saya tidak banyak menulis tentunya, kecuali pekerjaan saya di Aceh, akhir Agustus 2007 lalu. Tapi saya dan kawan seprofesi ini lah orang-orang mewujudkan sebuah informasi dapat anda lihat atau dengarkan dan baca. “We are The Invisible”

Kalian punya sebutan lain buat saya ?

Silakan…

Monday, September 17, 2007

Im Back !

Hi Fella

I finnaly able to get back on my feet to greet you here.
IM back after some while of my doom times(So sorry for that).

This refresh blog, Its dedicate to my passion in journalism.
After having so many NO answer and underestimation,
not the mention my hunger for deeper information
I finnaly decide that
THIS IS ME !
This is my life.

At this point, I have to be independent(somehow).
Stand on my own feet, built things that still remains in me
No Company or interest attachment.
Just me doing my best to play my role and huge responsibility
Im FREE.

I AM NOW A FULL TIME FREELANCER !