Keputusan menjadi seorang wartawan lepas seperti sekarang,
Yang terberat adalah memantapkan mental !
Bagaimana tidak ?
Nyaris
Sakit silih berganti…Surat-email lamaran tak bersuara…
Wawancara kerja berakhir sadis, no mineral water, smile or even hands shake !
I guess Im just too confident for them…Apa kata dunia mak…Biarkan saja.
Walhasil…saya sukses menganggur, brag proud and shame of it..hahaha…
Padahal jujur, BETE juga lah.
Patah arang, badan kayak triplek, wajah berkeriput
that Im getting so much skinny on purpose…
Dokter bilang “Throw away your burdens !
Saya bilang “Anda benar ! Tapi jangan bilang saya tak berusaha keras untuk memeranginya.
I surely DO ! Not all of you have any single clue.”
Hm, MaaF kalau jadi defensif begini.
Saya cuma mau bilang Semua itu tidak mudah.
Masalah saya tidak cuma satu. Kebetulan mereka suka datang bergerombol.
Dan kali itu, saya kehilangan satu kekuatan yang sempat membantu.
Akhirnya, setelah sekian waktu, saya berkompromi dengan diri saya sendiri.
Saya harus berani dan kuat mengakui : “IYA. Saya SENDIRI dengan semua masalah ini !”
Saya berhenti MengeluH, kenapa masih saja diuji.
Saya juga berhenti berpikir keras Apa yang TUHAN mau ajarkan kali ini.
Saya berujar “ Hayo…Aku tantang ‘Kamu’ kali ini ! “
Mudah-mudahan tidak.
Itu cuma sebuah pikiran yang coba saya terus hidupkan di kepala saya terhadap keputusasaan.
Yang bisa saya lakukan adalah menjalaninya. Menerimanya sebagai bagian dari proses HIDUP manusia.
Dan ini lah hasilnya. Hati nurani saya sekarang sudah lebih lantang berkata :
“Saya jalani apa yang KAU tulis untuk ku sekuat semampu semaksimalku.
Dan aku akan ubah dan putuskan apa dari tulisan itu menjadi kebaikan kebajikan. “
Sadar bahwa saya tak mampu rampungkan semua, maka soal yang termudah lah yang saya coba tata.
Saya harus tentukan kebutuhan dan kemauan saya soal pekerjaan.
Saya sempat lupa betapa pekerjaan bisa jadi sebuah tempat pelarian yang asik dari semua masalahmu.
Saya pun membuat pilihan.
Menjadi wartawan lepas.
BEBAS.
Paling tidak dari keterikatan komitmen dengan sebuah perusahaan tertentu yang mungkin punya interest berbeda.
Mari melakukan apa yang saya bisa, saya suka, dan membuat saya berarti.
Meski sepenuhnya sadar pilihan ini diliputi segala ketidakpastian, paling tidak saya bisa LARI.
Ini lah pilihan saya.
Ini hidup saya. Ini dunia saya.
Tempat saya punya Karya.
Ruang untuk punYa makna.
Surga untuK semua keTidakseMpurnaan Yang Saya PUnya !
Tak ada yang bisa dibanggakan atau bergengsi dengan pilihan ini.
Katakan itu betul, biar saja.
Tak ada yang rendah dan salah dengan pilihan itu.
Buat saya pekerjaan ini luar biasa nikmat.
Punya sedikit kendali dan kontribusi dalam framing sebuah peliputan yang punya efek global tentang NUSANTARA,
adalah “something” buat saya.
Meski kadang dihinggapi beban layaknya sebuah “ensiklopedi nusantara”,
Memastikan mereka memiliki banyak sisi cakupan sebuah wawasan tentang ibu pertiwi,
melecut semangat saya untuk terus berkarya dan menyebarkannya.
Meski tak diganjar dengan terpampangnya nama saya dalam dua atau
saya cukup senang dengan fakta : “I make that thing happened and well done !”
Seseorang yang mengatur segala sesuatu yang dibutuhkan demi sebuah reportase yang utuh.
Segala urusan logistic seperti pesawat, hotel, helicopter, mobil, pengenalan medan liputan hingga restoran local yang sedap, juga elemen-elemen lain seperti riset, lobby dengan sejumlah nara sumber, surat menyurat, adalah tanggung jawab yang mengikutinya. Urusan memastikan kami bisa bersulang di setiap akhir hari kerja dengan “wine”, juga jadi pekerjaan informal yang kadang saya lakukan. Bentuk penghargaan terhadap kerja keras harus diganjar dengan “wine”, begitu klaim mereka yang buat saya asik juga. Sejalan dengan prinsip “Appreciate your self best lah !”
Saya tidak banyak menulis tentunya, kecuali pekerjaan saya di Aceh, akhir Agustus 2007 lalu. Tapi saya dan kawan seprofesi ini lah orang-orang mewujudkan sebuah informasi dapat anda lihat atau dengarkan dan baca. “We are The Invisible”
Silakan…
No comments:
Post a Comment