Saya harus jujur mengakui berkecimpung di dunia ini, bukan sebuah pilihan yang dari awal saya inginkan.
It’s just happen. Mungkin nyaris seperti jatuh cinta.
Dan itu lah yang terjadi. Saya JATUH CINTA pada dunia ini.
Mungkin kalau kawan alumni kampus saya tahu saya menekuni profesi ini, mereka akan mengutuk saya.
Aktifitas saya di kampus, nyaris meniadakan akademis.
Tak pernah saya terlibat dalam organisasi pers mahasiswa.
Paling banter aktifitas saya yang berkaitan dengan dunia ini, memastikan bulletin bulanan organisasi Pecinta Alam kampus-MAHAFISIPPA-terbit dan tersebar dengan baik.
Nyaris mengabaikan kaidah jurnalistik media cetak.
Banyak kata tak efektif bertele-tele nan tiada deskripsi,
tapi luar biasa cantik di desain, gambar dan kartun yang dipajang..hehe…
Atau lebih tepat NEKAD ? hm…
Puh…tiap hari hidup penuh dengan perasaan was was.
Tapi tiap hari itu pula saya belajar
1. Penampilan.
Mereka membungkus diri mereka dengan jas tebal plus dasi super panas ketika ke lapangan.
Nampak eksklusif dan professional.
Sementara saya, sebelumnya sangat nyaman dengan jeans, t-shirt & sepatu kets.
Mengenakan jas dengan sepatu pantovel adalah siksa yang harus dijalani setiap kali meliput di istana Presiden.
2. Pengetahuan = Tanggung Jawab
Luar biasa detail. Bahkan hanya untuk sebuah liputan news yang berdurasi 2 menit, pengetahuan soal satu issue membutuhkan riset yang luar biasa gila-gilaan. Saban hari 3 koran lokal dan 2 koran asing harus dilalap. Dan itu masih harus dibumbui dengan aksi membrowsing dan quick scan ke sejumlah news wires. Buat saya ini baru dan menyita energi. Dulu saya akui saya pemalas. Lebih suka berkutat pada desk saya saja. Bak katak dalam tempurung. Ogah dan merasa terlalu lelah untuk melirik lahan kawan.
Seiring waktu pelajaran ini menjadi semakin berkembang dan berkembang.
Saya kesulitan meng-inti sarikannya…buanyak banget..
Ditulis terpisah saja yah….
Piss
No comments:
Post a Comment